Kamis, 02 Maret 2017

Ahlan wa Sahlan Khadim al-Haramain asy-Syarifain

Ada yang berbeda selama 3 hari ini di Jakarta dan Bogor, banyak warga dan anak sekolah yang turun ke jalan bukan untuk berdemo, melainkan bentuk antusiasme masyarakat Indonesia atas kunjungan Raja Salman bin Abdul Aziz dari Saudi Arabia ke Indonesia. Bukan kali ini saja Indonesia menerima tamu negara, setiap tahunnya tamu negara yang berkunjung ke Indonesia bisa 2-3 tamu bahkan lebih. Hanya saja yang membuat kunjungan Raja Salman terasa spesial adalah kunjungan kenegaraan ini adalah yang pertama sejak kunjungan Raja Faisal bin Abdul Aziz yang merupakan kakak tiri Raja Salman pada 47 tahun silam. Menurut rencana setelah kunjungan kenegaraan ini Raja Salman juga akan berlibur selama 6 hari di Bali.
Para pelajar menunggu Raja Salman tiba di Kota Bogor (sumber : viva.co.id)

Antusiasme warga Kota Bogor tidak surut dalam kondisi hujan deras (sumber : kompas.com)

Seluruh awak media pun tak mau ketinggalan saling berlomba mewartakan kegiatan Raja Salma selama berada di Indonesia. Beberapa stasiun televise bahkan menayangkan secara langsung kegiatan-kegiatan tersebut.

Raja Salman kagum dengan sambutan masyarakat Indonesia yang sangat meriah (sumber : detik.com)

Tentu saya tidak membahas masalah investasi, rencana divestasi saham Aramco dan intrik-intrik lainnya terkait kunjungan Raja Salman ke Indonesia. Tapi saya ingin menyampaikan bahwa kunjungan kenegaraan ini tentu akan sangat tersimpan dalam ingatan bagi siapa saja yang mengikuti kegiatan sang Raja selama berada di Indonesia. Yah, tentunya bagi Wicaksaning Naya juga.

Raja Salman menunaikan ibadah Shalat Tahiyyatul Masjid di Masjid Istiqlal (sumber : kompas.com)

Wicak yang kebetulan bersekolah di Madrasah Ibtidaiyah Istiqlal berkesempatan menyambut kedatangan Raja Salman di Masjid Istiqlal. Entah apa yang ada di pikiran anak berusia 6 tahun melihat sang Raja. Tapi dari obrolan ringan sore tadi rasanya dia cukup bagus mengenali wajah Raja Salman, dan tentunya juga Presiden Jokowi yang sudah sangat familiar. Di saat saya membaca koran dan membalik halaman dia mengatakan, “Eh, ada gambar Raja Salman”.

Wicak memamerkan oleh-oleh kegiatan menyambut Raja Salma tadi siang berupa bendera kecil Indonesia dan Arab Saudi.

Lain lagi obrolan sepulang sekolah dengan ibu :
I (Ibu) : Tadi ada raja salman ke istiqlal ya?
W (Wicak) : Iya bu. Rame banget.
I : Kamu ga salaman sama Raja Salman?
W : Gak bu. Udah tua, tadi aja pake mobil. Trus ada ambulan di belakangnya. Dia sakit kali ya bu..
I : Mmmm..

Bimo juga tidak mau kalah bergaya walaupun baru beberapa tahun lagi, Insya Allah, akan menjadi siswa Madrasah Istiqlal.

Haha,, pertanyaan ke utara pun dijawab ke barat. Dialog ringan tidak perlu dicari kesimpulannya, cukup untuk merilekskan suasana di sore hari. Semoga engkau tetap ingat akan sosok Raja Salman dan bisa melakukan ‘kunjungan balasan’ untuk beribadah dan menuntut ilmu.

Ahlan wa Sahlan yaa Khadim al-Haramain asy-Syarifain..


Selamat menikmati keindahan alam Indonesia..

Kamis, 23 Februari 2017

Transfer Antar Bank GRATISS

Di era yang serba modern dan serba canggih ini rasanya sulit bagi kita untuk lepas dari teknologi. Termasuk cara pembayaran secara tunai pun berangsur-angsur bergeser menjadi non-tunai, baik itu menggunakan kartu (debit/kredit) ataupun transfer. Bagi yang hobi berbelanja secara online, pembayaran melalui transfer pasti sudah sangat familiar.
Walaupun sekarang pembayaran melalui transfer antar bank sudah sangat mudah dan hanya dalam hitungan detik, namun biaya transfer antar bank yang timbul terkadang menjadi sebuah masalah bagi sebagian kalangan. Biayanya tidak begitu besar memang, berkisar antara 6.500 – 7.500 sekali transaksi tergantung pada bank dan jaringan yang digunakan. Tapi coba hitung jika kita melakukan 5 kali transfer dalam sehari. Ah, jangan 5 kali lah, coba saja misalkan 2 kali sehari. Maka dalam satu hari itu kita akan mengeluarkan biaya transfer sebesar 13 ribu rupiah. Artinya sebulan adalah 390 ribu rupiah, ya itu sama dengan 4,6 juta rupiah. Woww….
Hmm, rasanya saya tidak sesering itu melakukan transfer, apalagi untuk transfer antar bank. Okelah, kita buat hitungan yang lebih realistis. Dalam seminggu kita melakukan transfer antar bank 2 kali yang artinya sebulan adalah 15 kali atau setahun 180 kali, itu artinya dalam setahun kita mengeluarkan biaya transfer sebesar 1,1 juta. Masih lumayan juga kan buat jajan bakso.
Memang beberapa bank papan menengah punya kebijakan untuk memberikan subsidi terhadap biaya transfer antar bank yang dilakukan oleh nasabahnya. Tapi jika kita cermati, ada beberapa Syarat dan Ketentuan yang berlaku. Misalnya dengan menerapkan saldo minimal sesudah transfer adalah 5 juta rupiah dan sebagainya. Adapula yang memberikan gratis biaya transfer tersebut tanpa syarat, namun biasanya itu adalah sebuah promo dengan jangka waktu tertentu.
Sebagai nasabah bank papan menengah dan sangat mendukung program pemerintah yang telah mencanangkan Gerakan Nasional Non Tunai, maka saya lebih senang melakukan pembayaran menggunakan kartu ataupun transfer, sekalipun rekening tujuan transfer saya tersebut tidak sama dengan bank tempat saya membuka rekening. Dan lebih seringnya saya melakukan transfer secara gratis alias tanpa biaya.
Yup, saya menggunakan aplikasi “FLIP” yang tersedia di PlayStore. Sebagai gambaran, flip ini membantu transfer antar bank menggunakan rekening flip yang sama dengan rekening bank tujuan transfer kita dengan sebelumnya kita mentransfer dana yang akan kita kirimkan ke rekening bank milik flip yang sama dengan rekening bank kita.
Masih bingung maksudnya? Kira-kira begini, jika kita memiliki rekening di Bank Muamalat dan akan melakukan transfer dana ke rekening di Bank Mandiri maka kita melakukan transfer ke rekening Bank Muamalat milik Flip, kemudian Flip akan ke meneruskan transfer dana kita tersebut ke rekening Bank Mandiri yang kita tuju. Supaya Flip juga tidak terkena biaya, maka Flip akan melakukan transfer nya melalui rekening Bank Mandiri milik Flip.
Apakah transaksi ini aman? Insya Allah aman, karena Flip ini telah mengantongi izin dari Bank Indonesia. Nah, supaya Flip ini tidak dijadikan sarana untuk tindak pidana pencucian uang (money Laundring), maka Bank Indonesia mewajibkan Flip untuk melakukan verifikasi terhadap penggunanya secara tatap muka. Jangan khawatir, verifikasinya sangat mudah koq. Hanya memakan waktu kurang dari 2 menit dan dilakukan di lokasi-lokasi strategis yang akan dipandu oleh pihak Flip. Tujuannya adalah melihat KTP kita dan memastikan kesesuaian data pada KTP tersebut.
Untuk melakukan transfer juga caranya sangat mudah, tidak berbeda jauh dengan cara kita melakukan transfer menggunakan aplikasi mobile banking dari bank. Hanya ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan, antara lain adalah transfer hanya dapat dilayani dari Hari Senin-Jum’at pukul 09.00-19.00 WIB dan Sabtu pukul 09.00-14.00 WIB. Transaksi yang dilakukan diluar jam layanan tersebut akan dilakukan pada jam layanan berikutnya. Selain itu, jika kita melakukan transfer kita juga diminta untuk memasukkan kode unik dalam akhiran nilai transfer kita. Misalkan kita akan melakukan transfer sebesar 68 ribu dan kita diberikan kode unik 50, maka kita harus melakukan transfer sebesar 68.050.

Lalu untuk apa nanti nilai recehan yang terkumpul tersebut? Jika akumulasi nilainya sudah mencapai 10 ribu rupiah, maka dana tersebut dapat dikembalikan ke rekening kita.

Nah, sejauh ini saya sudah 3 kali melakukan transfer niy, masih baru memang, tapi itu artinya saya sudah menghemat dana sebesar 19.500 rupiah.


Jika kamu mau mencoba, kamu bias mengunduh nya di Google PlayStore atau bisa klik link ini : https://play.google.com/store/apps/details?id=id.flip

Kamis, 16 Februari 2017

Busway Vintage Series

Busway Vintage Series
walaupun bukan pengguna setia angkutan umum di jakarta, saya saya tertarik untuk mengikuti perkembangan modernisasi, atau minimal disebut pembenahan, angkutan umum di jakarta.
pengalaman saya naik angkutan umum di jakarta dimulai sejak kelas 2 SMP. saat itu saya harus menempuh jarak belasan kilometer dari rumah menuju ke sekolah. ya, bukan karena di dekat tempat tinggal saya tidak ada SMP, melainkan saat kelas 2 itulah keluarga saya harus berhijrah dari tempat tinggal semula di kawasan Petamburan - Jakarta Pusat ke daerah Tanjung Barat - Jakarta Selatan. untuk pindah sekolah rasanya tanggung karena tinggal separuh masa lagi saya akan lulus SMP, nanti sajalah kalau masuk SMU, pikirku waktu itu.
tahun 1997 kondisi angkutan di jakarta jauh untuk bisa dibilang modern. walaupun kondisinya pada waktu itu tentu tidak seruwet saat ini. tapi dari tempat tinggal saya di daerah tanjung barat saat itu, setidaknya saya harus berganti angkutan paling tidak 3 kali; itu belum termasuk kombinasi ojek dan berjalan kaki. maklum, rumah yang saya tempati di tanjung barat saat itu letaknya jauh di tengah perkampungan. lokasi SMP saya pun berada di tengah pemukiman padat penduduk di daerah slipi yang tidak dilewati oleh angkutan umum.
dari tanjung barat saya harus naik Angkot berjenis KWK berwarna merah (Koperasi Wahana Kalpika) menuju daerah pasar minggu. dari situ saya harus berganti angkutan, ada beberapa alternatif angkutan yang bisa saya tumpangi : (1) metromini S.62 untuk berganti di kawasan pancoran, (2) metromini S.604 (sekarang berubah menjadi S.640) untuk berganti di halte Polda Metro Jaya (dulu terkenal dengan Komdak, mungkin singkatan dari Komando Metro Daerah Khusus), atau bisa juga (3) PPD P.54 yang bisa membawa saya langsung ke slipi. tapi untuk pilihan yang terakhir itu sangat jarang saya ikuti, karena kondisi PPD P.54 jurusan Depok - Grogol saat pagi hari sudah penuh sesak dengan penumpang bergelantungan di pintu, selain itu juga ongkos yang harus dikeluarkan jauh lebih mahal, 300 rupiah untuk sekali jalan. bandingkan dengan metromini yang hanya 100 rupiah untuk tarif pelajar.
untuk pulang tidak jauh berbeda angkutan yang harus saya naiki.
hanya saja terkadang saya pernah mencoba naik KRL (zaman dulu belum ada sebutan commuter line), naik dari stasiun tanjung barat menuju stasiun tanah abang yang waktu itu hanya ada beberapa kereta saja. jadi kalau kereta terlambat atau saya yang tertinggal, terpaksa harus naik bus dan bisa dipastikan saya terlambat sampai sekolah.
hingga kemudian jakarta memiliki busway yang dinamakan transjakarta.
awal hadirnya busway di jakarta hanya ada di satu koridor, Blok M - Kota. saat itu saya sedang berkuliah di semarang, saat saya "pulang kota" ke jakarta, saya mencari tahu bagaimana rasanya naik busway. terkesan norak, tapi memang di masa-masa awal kehadirannya, masyarakat jakarta berbondong-bondong menjajal transportasi model baru bus rapid transportation ini. banyak pro dan kontra, dengan berbagai dinamikanya, akhirnya transjakarta busway saat ini sudah terdiri atas belasan koridor; melintasi berbagai jalanan ibukota belum lagi ditambah feeder busway yang menjelajahi jalanan-jalanan yang belum tersedia lintasan busway.
tampilan busway semakin hari semakin elegan dan modern. tapi ada yang cukup menyita perhatian saya, seolah saya terlempar ke masa belasan tahun lampau. yah,,, busway tampil dengan tema vintage, mungkin untuk membangkitkan kembali kenangan masa lalu ibukota dengan tampilan yang lebih modern.
ada yang tampil menyerupai mayasari bakti tempo dulu...

ada pula yang mengikuti nuansa PPD dari masa ke masa...
bagi yang baru ke jakarta belakangan ini, mungkin hadirnya busway dengan vintage tempo dulu ini tidak berdampak apa-apa.
tapi yang jelas semoga transportasi di jakarta bisa hadir lebih modern di masa-masa mendatang sehingga memberikan rasa aman dan nyaman bagi seluruh warga dan tamu yang berkunjung ke ibukota jakarta.














My 1st Blog (ayo menulis)

My 1st Blog (ayo menulis)

jujur aja sebenernya saya orang yang paling males nulis, baik itu menulis secara formal terkait pekerjaan atau kuliah, ataupun menulis lepas untuk apapun. tapi ada yang selalu terngiang di telinga saya manakala saya menjemput anak pulang sekolah yang kebetulan dia bersekolah di komplek masjid istiqlal. yah, banyak yang ga tau kalo di Masjid Istiqlal, masjid kebanggaan masyarakat Indonesia itu, ada sekolahnya. sekolahnya lengkap, dari level kelompok bermain (playgroup), Raudhatul Athfal (TK), Madrasah Ibtidaiyah (selevel SD), Madrasah Tsanawiyah (setingkat SMP) sampe Madrasah Aliyah (setingkat SMA). Yayasan Istiqlal Indonesia juga bercita-cita bisa mendirikan kampus nantinya.

eh, balik lagi ke laptop yah, jadi sore itu saya mendengar kultum yang disampaikan di masjid melalui pengeras suara sehingga saya yang saat itu berada di tempat parkir bisa mendengar intinya adalah permasalahan umat islam saat ini bukanlah kurangnya minat membaca, tapi lebih parahnya adalah kurangnya minat dalam hal menulis. apa sih akibatnya?
coba bayangkan jika sudah tidak adalagi orang yang menulis, kira-kira toko buku isinya apa ya? apa sekedar buku-buku lama yang dicetak ulang atau apa?

para ilmuwan yang banyak membuat temuan dahulu juga selalu menuliskan (membukukan) temuan serta teori yang dihasilkan dalam sebuah tulisan. apa jadinya jika mereka hanya bercerita kepada teman-temannya atau murid-muridnya tentang temuan atau teori mereka. mungkin rumus phytagoras yang dulunya adalah a2 + b2 = c2 bisa ga sampe utuh atau justru ditambah-tambahin kali. tapi karena si phytagoras mau menulis, maka kita semua sampe sekarang bisa membaca dan mempelajari hasil karyanya.

ga perlu bertarget tinggi-tinggi sampe bisa bikin buku atau bisa dibaca banyak orang lah tulisan ini, yang penting saya bisa mencurahkan apa yang menjadi pikiran serta pemikiran maupun uneg-uneg saya dalam sebuah tulisan, jadi ga menjadi seperti butiran debu yang tertiup angin.

nah, kemarin waktu jalan-jalan ke toko elektronik saya iseng ngambil keyboard bluetooth yang bisa dikoneksikan dengan hp murah meriah saya. berhubung saya ga suka nenteng-nenteng laptop dan juga gak punya tab, ya saya pikir bisa lah keyboard ini buat ketik-ketik dan coret-coret dikit di hp saya ini.


semoga ini menjadi sebuah awalan yang baik. Aamiin..